Big Data Mengalahkan Sistem Konvensional (Story of Netflix)

netflix

Setelah beberapa post membahas tentang fitur dan hal teknis tentang Big Data, rasanya sekarang sudah tiba waktunya. Waktunya untuk mengulas Big Data in the Big Picture. Maksudnya adalah mengulas bagaimana Big Data benar-benar digunakan dan bermanfaat. Bahkan Big Data menjadi faktor yang menyebabkan perusahaan yang menggunakannya bisa menantang dan mengalahkan sistem konvensional. Kali ini yang disajikan adalah studi kasus yang terjadi pada Netflix.

Sebelum tahun 2010 atau bahkan 2012 mungkin banyak diantara kita tidak tahu apa itu Netflix. Kecuali yang pernah tinggal di US atau California tentunya. Netflix sebenarnya bukan perusahaan baru seperti Cloudera atau Hortonworks. Netflix sudah ada jauh sebelum kedua perusahaan itu ada. Netflix didirikan tahun 1997 di California. Awalnya Netflix adalah perusahaan rental film online. Mereka menyewakan film-film dengan media tape, CD, dan DVD (kurang yakin apakah DVD sudah dipakai di US sebelum tahun 2000). Jadi awalnya user menyewa film secara online dan tape, CD atau DVD dari film tersebut dikirimkan ke alamat penyewa melalui kiriman pos. Maklum pada masa-masa tersebut bandwidth belum sebesar sekarang sehingga tidak memungkinkan setiap orang streaming melalui internet. Teknologinya saja mungkin waktu itu belum ada.

Tapi itu kisah Netflix 17 tahun lalu. Sekarang Netflix mengubah media pengiriman film-film tersebut. Netflix menggunakan internet untuk menampilkan film-film yang diinginkan oleh para customernya. Netflix sekarang menjadi perusahaan penyedia video on demand yang sangat besar, mungkin yang terbesar, di dunia.

Yang membedakan Netflix dengan perusahaan video on demand lainnya adalah penggunaan Big Data. Netflix bisa dibilang termasuk deretan perusahaan yang paling awal mengadopsi teknologi Big Data / Hadoop. Netflix bahkan mendonasikan beberapa software Big Data mereka seperti AstyanaxPriam dan Genie.

Netflix menyimpan ber Peta – Peta Bytes data di dalam sistem Hadoop mereka. Perhari rata-rata 10 Terabytes data dimasukkan ke dalam Sistem Hadoop mereka. Netflix menjalankan Hadoop mereka dengan cloud Computing menggunakan Amazon Elastic Cloud Computing (EC2). Uniknya dari sistem Netflix disini, dia tidak menggunakan HDFS sebagai media penyimpanan data mereka seperti sistem Hadoop lainnya. Mereka menggunakan Amazon Simple Storage Service (S3). Alasan dari Hadoop Engineer Netflix adalah karena S3 lebih terintegrasi dan lebih mudah digunakan di Amazon Cloud Computing.

Dengan menggunakan Big Data Netflix tidak hanya menguasai pangsa pasar video on demand tetapi juga mulai menggerogoti pangsa pasar TV Cable terutama di Amerika. Kalau Anda familiar dengan HBO (salah satu saluran TV kabel yang menampilkan film), maka itu adalah yang digerogoti pangsa pasarnya oleh Netflix.

Persaingan antara kedua perusahaan ini mulai keliatan terang-terangan pada tahun 2011. Pada tahun tersebut beberapa entertainment channel (Netflix, HBO dan beberapa saluran TV kabel lain). Sedang melakukan bidding / menawar sebuah Serial TV yang berjudul House of Cards. House of Cards adalah Serial TV yang ber genre political drama. Semua entertainment channel tersebut tahu bahwa TV Serial yang ber genre political drama sangat diminati oleh konsumen Amerika. Apalagi dibintangi oleh Kevin Spacey yang memang waktu itu lagi digandrungi. Karena itu semua entertainment channel berebut untuk mendapatkan hak siar dari production house yang memproduksi Serial TV ini.

Sampai dengan ini Big Data tidak digunakan sama sekali. Karena untuk mengetahui bahwa Serial TV dengan genre political drama diminati konsumen dan Kevin Spacey sedang digandrungi bisa diketahui dengan mudah berdasar survey dan lembaga rating. Meskipun mengetahui informasi seperti itu, entertainment channel seperti HBO tidak serta merta membeli hak siar dari House of Cards.

Prosedur umum di HBO dan perusahaan lain yg sejenis adalah mereka akan membeli episode pertama dari serial tv tersebut. yaitu pada episode pertama dari season pertama atau yang biasa disebut Pilot Episode. Lalu mereka akan melihat episode pilot tersebut dan mengambil sample dari customer mereka untuk menonton Pilot Episode tersebut. Jika customer mereka suka maka mereka akan membeli satu season dari serial TV tersebut untuk mereka tayangkan di saluran televisi mereka secara periodik. Misalnya satu episode per minggu. Prosedur ini ditempuh untuk benar-benar meyakinkan perusahaan seperti HBO bahwa customer mereka benar-benar suka dengan tayangan tersebut.

Netflix memilih pendekatan berbeda. Selain informasi dari lembaga rating, mereka juga sudah melakukan data mining terhadap data yang mereka kumpulkan di sistem Big Data mereka. tanpa melihat Pilot Episode, Netflix sudah sangat yakin bahwa customer mereka akan suka dengan House of Cards. Dengan keyakinan tersebut mereka langsung menyatakan akan membeli serial TV tersebut sekaligus 2 season.

Mendapatkan tawaran Netflix yang cukup berani tersebut, production house langsung memberikan hak siar ekslusif kepada Netflix sehingga HBO harus gigit jari. netflixpun juga mempersilakan customernya untuk menonton keseluruhan episode House of Cards sekaligus dan tidak satu episode per minggu seperti di tv kabel. Pertaruhan Netflix tersebut berbuah manis. House of Cards benar-benar meledak dan bahkan mendapatkan Emmy Awards.

Hal ini mulai membuka mata banyak industry akan kekuatan dari Big Data. Big Data memberikan semacam jaminan tanpa effort yang berlebihan untuk menilai sesuatu yang baru. Dengan informasi yang diambil dari analisis Big Data tersebut, tindakan bisa dengan cepat diambil sehingga kompetitorpun bisa dikalahkan. Meskipun kompetitor itu adalah perusahaan besar yang telah lama menguasai pangsa pasar.

Fakta diatas juga cukup mengguncang (Disrupt) karena sekarang perusahaan video on demand (Netflix) juga bersaing dengan entertainment di tv kabel seperti HBO. Di pasar sebelumnya perusahaan video on demand hanya menampilkan film-film dan serial tv lama yang sudah diputar di bioskop atau di tv kabel. Video on Demand pada umumnya hanya memutar barang lama saja dan untuk customer yang ingin bernostalgia dengan tontonan lama.

Dengan digunakan Big Data, Netflix mengubah pandangan ini. Penyedia video on demand juga menampilkan tontonan-tontonan baru yang berkualitas dan ekslusif serta bahkan tidak bisa di tonton di TV kabel.

Hal ini juga salah satu faktor yang memicu boomingnya Big data. banyak perusahaan dari berbagai industri yang tertarik untuk memanfaatkannya. Semoga tulisan ini ikut memicu percepatan adopsi Big Data di Indonesia.

 

 

 

 

Satu respons untuk “Big Data Mengalahkan Sistem Konvensional (Story of Netflix)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s